Belajar Dari Warren Buffet : Kesederhanaan dan Semangatnya untuk Terus Belajar

warren buffet

Kenalkah Anda dengan Warren Buffet? Ya, dialah CEO dan pemegang saham terbesar Berkshire Hathaway, sebuah perusahaan konglomerat multinasional yang berbasis di Omaha, Nebraska (USA).

Lahir di Omaha pada 30 Agustus 1930, Buffet merupakan salah satu konglomerat yang secara konsisten berada pada papan atas daftar orang kaya menurut majalah Forbes.

Dengan nilai kekayaan sekitar 870 trilliun rupiah, Buffet menduduki peringkat ke-3 dalam Forbes List 2015, hanya kalah dari Bill Gates pemilik Microsoft dan Carlos Slim konglomerat telekomunikasi dari Meksiko.

Dengan kekayaan sebesar itu dan puluhan anak perusahaan yang ada di bawah Berkshire Hathaway, banyak orang tentu membayangkan betapa sibuknya kehidupan Warren Buffet sehari-hari.

Ya benar, Warren Buffet adalah seorang bussinesman super sibuk. Tetapi kesibukan utama seorang Warren Buffet sehari-hari bukanlah menghabiskan waktunya untuk meeting dengan para direktur anak perusahaan Berkshire Hathaway,

Kenyataan yang ada, Warren Buffet lebih banyak menghabiskan waktunya sehari-hari untuk membaca buku, surat kabar, majalah dan laporan-laporan. Banyak orang yang mengenal dekat Buffet menyatakan bahwa dia menghabiskan 80% dari waktu kerjanya untuk membaca.

Untuk seorang Warren Buffet, membaca adalah bagian dari pekerjaan . Membaca adalah kunci sukses untuk mengembangkan Berkshire Hathaway. Buffet adalah seorang yang percaya dengan adagium “Knowledge is power“. Dia percaya bahwa kunci sukses seorang pengusaha atau eksekutif profesional adalah pengetahuan.

Dalam salah satu kesempatan saat mengisi kuliah tentang investasi di Columbia University, salah seorang peserta mengajukan pertanyaan apa hal terbaik yang harus dilakukan jika ingin berkarir di investmen bussines

Sejenak berpikir, Buffet mengumpulkan berkas-berkas yang dia bawa. Sambil mengacungkan segepok laporan, jurnal bisnis dan berkas lainnya ke arah peserta kuliah, Buffet mengatakan, “Baca tulisan dan laporan seperti ini, paling tidak lima ratus halaman setiap hari. Kalian semua pasti bisa melakukannya, tapi saya yakin hanya beberapa orang saja dari kalian yang akan melakukannya.”

Todd Combs, salah seorang mahasiswa yang hadir dalam kuliah tersebut sekaligus pengagum berat Warner Buffet bertekad melaksanakan nasihat tersebut dengan sepenuh hati. Hasilnya, kini dia merupakan salah seorang manager kepercayaan Buffet di Berkshire Hathaway. Atas kesuksesannya memutar roda usaha sepanjang tahun 2012, Combs berhak atas bonus sebesar 50 juta dollar. Satu jumlah yang luar biasa.

Hari-hari kerja Buffet juga tidak disibukkan dengan mengunjungi ataupun menerima tamu pejabat pemerintahan ataupun pengusaha besar lainnya.

Bill Gates adalah salah satu teman dekat yang sangat paham bagaimana Buffet melewatkan hari-hari kerjanya. Menceritakan kembali saat saat pertama kali bertemu Warren Buffet tanggal 5 Juli 1991, Gates menyatakan keterkejutannya saat sekilas melihat agenda kerja sang investor.

Saat hendak berpisah, Gates dan Buffet membuat janji untuk bertemu kembali. Buffet pun mengeluarkan buku agendanya untuk mencatat jadwal pertemuannya. Saat itulah Bill Gates melihat buku agenda Buffet lebih banyak kosongnya, tidak seperti yang dia bayangkan.

Dalam suatu interview dengan Levo League, Buffet menyampaikan salah satu prinsip bisnisnya. “Keep control of your time. You won’t keep control of your time unless you can say NO. You can’t let other people set your agenda in life.”

Berkelimpahan materi tidak membuat Warren Buffet bergaya hidup boros. Malah bisa dikatakan gaya hidupnya terlalu sederhana untuk ukuran pengusaha yang namanya selalu tercantum dalam daftar orang terkaya sedunia.

Hingga saat ini Buffet tetap tinggal di rumah yang sama yang dia beli tahun 1958. Kantornya pun tetap menempati gedung yang sama dengan kantor saat dia pertama kali memulai usaha. Jarak rumah dan kantor Buffet hanya lima menit berkendara. Keduanya terletak di jalan yang sama, Farnam Street, Omaha, Nebraska.

Dalam acara Person to Person dari CBS News, Charlie Rose bertanya apakah tidak ada keinginan dalam diri Buffet untuk membeli banyak rumah, kapal pesiar atau pulau pribadi seperti halnya para billionaire lainnya.

Dengan ringan Waren Buffet pun menjawab, “I have every possession I want. I have a lot of friends who have a lot of more possessions. But in some cases, I feel their possession posses them, rather than the other way around.”

Bulan Februari 2015 yang lalu, Buffet melelang Cadillac DTS miliknya melalui situs online Proxibid. Hasil penjualannya sebesar $ 122.500 diserahkan ke sebuah lembaga amal Girls Inc. Buffet telah memakai mobil tersebut selama delapan tahun sejak 2006.

Dalam urusan mobil pun Buffet bukan termasuk pengusaha yang gemar bergonta-ganti mobil baru. Sebelum mengendarai Cadillac DTS, Buffet memiliki Lincoln Town Car yang dia pakai selama lima tahun.

Kesederhanaan seorang Warren Buffet juga terlihat dalam hal dia memperlakukan rekan-rekan bisnisnya. Seringkali dia menjemput sendiri tamu-tamu Berkshire Hathaway dan menjamu mereka di Mc Donald yang terletak hanya bebeapa blok dari kantornya.

Memang untuk seorang Warren Buffet kesuksesan dan kebahagiaan adalah hal yang sederhana. Berada di kantor melakukan pekerjaan sehari-hari, menghabiskan waktu untuk membaca dan selalu berusaha meningkatkan kualitas pribadi, adalah dua hal sederhana yang sangat dinikamti oleh Buffet.

“Success is really doing what you love and doing it well. It is as simple as that. Really getting to do what you love to do everyday, that is really the ultimate luxury.”

Sementara untuk kegemarannya bermain bridge Buffet mengatakan, “I love playing bridge, I talk to my friends, and I pretty much don’t do anything I don’t like to do. I am very fortunate in that. I am pretty much in command of my own time, and I have a lot of fun doing it.”

Belajar dari Warren Buffet, sepertinya kebahagiaan adalah hal yang sederhana. Cara berpikir kita saja yang kadang kala menjadikannya sebagai suatu hal yang rumit.